Santosa Doellah: Batik saya punya kelas tersendiri

Di tangannya lahir Danar Hadi, salah satu merek batik ternama di Tanah Air. Bukan perjalanan singkat untuk membawa bisnis ini berkembang pesat. Kendati demikian, Santosa Doellah menolak disebut sebagai pebisnis sukses.

Usaha ini, menurut dia, semata-mata karena kecintaannya pada batik. Kerja kerasnya tak sia-sia.

Kepada Bisnis, dia menceritakan kisahnya dalam membesarkan batik hingga ke mancanegara. Berikut petikannya:

Kapan Anda mulai terjun ke dunia bisnis?

Saya memulainya sejak 1967. Setelah saya menikah dengan Bu Danar, saya tidak melanjutkan kuliah tetapi langsung bekerja.Saya pilih batik karena sejak kecil saya dibesarkan di kalangan batik, yaitu di tempat kakek-nenek saya yang adalah pengusaha batik. Tempatnya di Singosaren, Solo.

Anda memulai usaha batik yang baru?

Saya mulai bekerja dari nol. Sesuatu yang baru, yang tadinya tidak ada nama karena saya belum tahu akan dinamakan apa. Hanya karena saya sangat senang sekali dengan batik.

Sejak kuliah di Universitas Pajajaran, Bandung, saya memang sudah mulai berdagang batik. Saya menjajakan batik-batik yang halus dari Solo. Di situ awal mula saya memulai bisnis ini.

Pertama kali saya mulai menekuni bisnis ini sebagai home industry dengan jumlah pembatik kurang lebih 20 orang. Sangat sedikit.

Bisa diceritakan perjalanan usaha Anda?

Itu saya alami tidak dalam sekejap mata tetapi dari sedikit demi sedikit. Tadinya saya mulai dari batik tangan atau batik tulis. Kemudian saya memperbesar perdagangan batik menjadi batik cap atau stamp.

Usaha saya berkembang sedikit demi sedikit. Tetapi karena waktu itu produk saya disukai konsumen, sampai-sampai mereka meminta kepada saya untuk memberikan ciri khas sehingga bisa membedakan dengan produk yang lain. Saat itu pada 1968. Dari situ saya memberi nama.

Jadi nama Danar Hadi mulai terkenal sejak 1968?

Waktu memberi nama pun saya bingung. Tidak ada rencana untuk memberi nama. Pada waktu itu, batik-batik yang beredar kebanyakan tanpa nama. Hanya mereka memperhatikan kualitas yang bagus dan motif-motifnya juga up to date dan tidak sama dengan yang lainnya.

Kemudian saya bertanya sama Bu Danar, bagaimana kalau saya namakan saja Danar Hadi. Bu Danar gak keberatan. Kenapa saya ambil nama Bu Danarsih? Pada waktu itu kebanyakan konsumen batik adalah wanita untuk kain batik. Belum ada untuk kemeja atau pakaian lain, yang ada hanya untuk kain.

Selain nama Ibu Danar, apakah nama itu memiliki arti penting lain bagi Anda?

Saya sangat menghormati Ibu Danar dan pada waktu itu kami belum punya anak. Yang saya punya hanya Bu Danar, makanya saya ambil nama Danar Hadi. Hadipriyono adalah nama orangtua Bu Danar.

Dari tahun ke tahun, saya membuat batik cap dan kebetulan sangat digemari konsumen, sehingga produk saya selalu kurang, kurang, dan kurang. Mulai dari situ, yakni pada 1969, saya membuat pabrik. Kebetulan eyang saya pada waktu itu tidak bekerja lagi, sehingga pabrik itu kosong dan boleh kita pakai.

Sudah ada berapa pabrik pada tahun itu?

Pada tahun itu sudah ada dua pabrik. Untuk batik tulis selain dikerjakan di dalam pabrik juga dikerjakan di rumah. Pembatik saya yang terkumpul pada 1969 itu lebih dari 1.000 orang. Itu saya bagi ke dalam tiap grup menurut asal desanya, ada dari Bayat, Sragen, Sukohardjo, Kedung Gudel, dan dari Solo sendiri yang istilahnya priyayi Solo karena yang membatik pada waktu itu memang kaum priyayi.

Itu saya jalani sampai kurang lebih 4 tahun. Pada 1973-1974, perdagangan batik saya kebanyakan sudah masuk ke Tanah Abang. Pada waktu itu, untuk batik tulis saja, sehari saya bisa menghasilkan 100 potong. Kalau untuk batik cap kurang lebih 1.000 potong.

Kemudian saya berpikir kalau saya hanya mengandalkan penjualan saya untuk pedagang di Tanah Abang, kebanyakan hampir semua batik tulis diambil oleh pedagang di Tanah Abang, mereka biasanya mengambil tidak secara cash, sehingga omzet saya walaupun sudah banyak, tetapi untuk uang cash sehari-hari biasanya kurang. Jadi saya berpikir bagaimana saya bisa mendapatkan uang cash untuk perputaran setiap hari. Akhirnya saya membuka toko.

Pertama kali saya membuka toko di rumah saya di Singosaren. Kemudian saya membuka di Raden Saleh, menyusul di Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, terus ke mana-mana. Itu sekitar 1975. Dalam setahun, secara beruntun membuka toko di berbagai daerah.

Apakah tidak ada pesaing waktu itu atau ada pertimbangan lain?

Belum banyak orang yang bikin toko yang menjual batik waktu itu. Dan yang sangat membantu untuk membuka toko itu, mulai 1975 kami mengadakan kerja sama dengan perancang mode dan perancang tekstil. Idenya dari almarhum Prayudi dan Studio One. Studio One itu tiga serangkai yakni Prayudi, Lili Salim dan Syamsidar.

Sampai sekarang kami terus mengadakan hubungan dengan perancang mode, sehingga walaupun kami mengeluarkan ide-ide sendiri, para perancang mode itu juga menyumbang ide-ide baru. Itu menyebabkan ide tidak terputus.

Apakah ketika itu Anda sudah berhubungan dengan bank?

Pada tahun-tahun itu saya juga masih jadi orang yang awam. Saya belum mengenal bank, belum mengenal kredit, jadi cara kerja saya masih kuno, cara tradisional zaman dulu. Terus pada waktu itu, saya ditawari Bank BNI 46.

Saya ditawari terus. Direkturnya datang ke rumah, saya diomongin, katanya dengan yang lainnya sudah bisa mencapai macam-macam [usaha berkembang] karena mendapat bantuan kredit dari bank untuk memperlancar usaha.

Akhirnya pada tahun 1977-1978 saya mulai berhubungan dengan bank, walaupun pinjamannya relatif kecil, tetapi hanya untuk persediaan saja. Jadi kalau saya kebetulan ke luar negeri atau ke mana-mana, masih ada yang dimintai bantuan.

Tapi sebetulnya pada waktu itu saya tidak minta bantuan bank pun, alhamdullilah dari pasar dan dari mana-mana, banyak yang mau bantu meminjamkan dulu bahan-bahan.

Malah sebetulnya ada pedagang-pedagang yang mau membayar uang lebih dahulu, tapi ya namanya orang dagang, semua ada hitungannya.

Saya memang gak mau kalau keterikatan itu akan membuat perkembangan saya terbatas. Saya akan tergantung pada seseorang. Jadi lebih baik saya ambil dari bank sehingga sewaktu-waktu bisa saya pakai.

Tahun berapa mulai regenerasi?

Pada 1997. Langsung ke anak-anak saya. Jadi semua anak-anak saya terlibat langsung di bisnis Danar Hadi.

Mengapa anak-anak mau ikut terlibat dalam bisnis keluarga ini?

Tadinya semua anak-anak saya tidak mau. Lantas saya ngomong ke anak-anak saya. Saya menyekolahkan kalian dan kalian jadi pintar, jadi laku dijual. Tetapi kalau kamu ikut orang lain, secara orang dagang, saya yang rugi.

Saya kehilangan modal saya. Saya minta mereka, kalau mereka tetap tidak mau bantu saya, ya sudah cukupkan saja. Untuk bekal hidup saya, insya Allah saya sudah cukup. Kemudian anak-anak saya berpikir juga, langsung mereka mau semuanya berbalik haluan membantu bisnis keluarga ini.

Dulu dari anak saya yang pertama, Diah [almarhum]. Kemudian Dian, Anto, dan anak saya yang terakhir. Tadinya yang namanya Diah, mulai lepas sekolah, mereka tahu-tahunya cari kerjaan sendiri, kerja di bank asing. Memang karier mereka bagus. Secara gaji mungkin sudah cukup.

Anda masih sering ke kantor dan ke pabrik?

Masih, sampai sekarang masih. Nanti kalau saya sudah pikun, jadi tua, mungkin saya berhenti.

Tapi saya sudah tidak tahu perkembangannya. Saya bilang sama anak saya untuk perluasan pabrik. Ternyata mereka sudah lakukan dan saya dituntun ke sana, melihat lokasinya.

Ada upaya untuk membina pembatik kecil untuk naik kelas ke skala yang lebih besar?

Kami dulu sudah membina pembatik di Pekalongan. Bagus sekali. Setelah saya bina, mereka malah jadi bumerang. Itu pun saya tidak mempersoalkan, tapi mereka juga nakal.

Nakalnya mereka ngomong ke customer kalau Danar Hadi hanya menjual barang sementara yang membuat barang itu mereka, tanpa mereka, Danar Hadi tidak akan hidup. Ya betul. Kalau itu memang betul. Makanya saya sampai lama sekali tidak memberikan desain-desain baru.

Dulu itu sampai bahan baku saya tuntun,  sampai motif-motifnya juga. Bahkan saya sampai ke Cirebon, ke Jogja. Seandainya mereka baik-baik saja dan tidak menjadi bumerang, saya senang. Saya dapat barang dagangan, mereka juga dapat hidup. Seperti batik lainnya, pokoknya batik yang besar-besar, itu sebenarnya dari Pekalongan banyak. Saya sering ditawari batik itu, tapi saya tidak mau, karena saya punya ciri khas sendiri. Saya punya kelas tersendiri.

Setelah berhasil di batik, apakah pernah tergoda untuk berbisnis di luar batik?

Untuk jangka panjang, kita mau diversifikasi usaha ke properti. Di sini (di Jakarta) dan di Solo. Mungkin untuk pertama kali di sini dulu, Tadinya yang kita mintakan izin untuk di Solo tapi sulit sekali izinnya.

Rencananya kita mau masuk hotel bintang lima dan apartemen dengan konsep butik. Properti ini nanti akan dikembangkan oleh PT baru. Lokasinya beda-beda.

Apa sekarang masih antibank?

Oh, enggak. Sekarang kami malah bersahabat. Tanpa bank, kita gak hidup.

bisnis.com

Galeri | Pos ini dipublikasikan di File Bisnis. Tandai permalink.

2 Balasan ke Santosa Doellah: Batik saya punya kelas tersendiri

  1. ageng berkata:

    hebat ya, perjalanan menuju sukses memang terkadang tak selalu lancar
    btw, dibesarkan disingasaren ya? itu tempat nenek saya dulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s