Langkah Stratejik Cina

 

Reformasi ekonomi Cina telah mengantarkan perusahaan Cina menjadi pengekspor global. Dalam menjalankan strategi ekspor global, Cina berusaha memperoleh perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara lain. Tujuan utamanya adalah untuk memelihara dan memperluas pasar ekspor produk buatan mereka dan mengurangi kendala tarif untuk produk buatan Cina memasuki pasar domestik negara lain.

 

Untuk alasan itu, perjanjian perdagangan bebas merupakan strategi perdagangan global yang paling digemari oleh pemerintah Cina. Perjanjian perdagangan bebas dengan Cina yang telah berlaku sampai dengan tahun 2010 antara lain dengan ASEAN, Pakistan, Selandia Baru, dan Peru. Perjanjian perdagangan bebas yang masih dalam tahap negosiasi antara lain dengan Australia, Costa Rica, Norwegia, Afrika Selatan. Sedangkan yang masih dalam studi kelayakan yaitu perjanjian perdagangan bebas Cina dengan India, Korea Selatan, dan Swiss.

 

Perusahaan Cina melakukan kegiatan ekspor dengan penuh komitmen dan mendapat dukungan pemerintah. Langkah stratejik ekspor yang ditempuh perusahaan Cina meliputi: penguatan budaya ekspor, penetapan sasaran negara tujuan ekspor, prioritas ekspor produk buatan Cina, dan pendanaan kegiatan ekspor.

 

Pemerintah Cina memberi dukungan kebijakan perdagangan internasional agar perusahaan Cina bersedia menjadi perusahaan berorientasi ekspor. Mereka harus menyadari bahwa besaran pasar global lebih besar dari pasar domestik Cina. Membangun budaya ekspor merupakan keharusan bagi setiap perusahaan pengekspor produk Cina.

 

Negara tujuan ekspor dibagi atas negara maju dan negara berkembang. Ekspor ke negara maju di pakai untuk memacu perusahaan Cina melakukan peningkatan kualitas produk dan inovasi produk serta membangun merek global. Ekspor ke negara berkembang dipakai untuk dengan cepat meningkatkan pangsa pasar ekspor produk buatan Cina. Alasanya, pasar domestik negara berkembang relatif memiliki kesamaan deangan karakteristik struktur pasar domestik Cina untuk kelas lokal dan kelas bawah.

 

Produk ekspor Cina perlu memasuki ukuran pasar besar untuk menopang pertumbuhan penjualan ekspor dan memperoleh marjin yang lebih besar dari marjin di pasar domestik Cina. Untuk itu, produk buatan Cina harus memperoleh keunggulan bersaing di pasar tujuan ekspor.

 

Menggunakan logik model daya saing produk buatan Cina, tahun 2010 Prasetiya Mulya Business School melakukan survei kepada 111 pimpinan perusahan Indonesia yang terdiri dari: 35% Direktur Utama, 41% Direktur, 21% General Manager, dan 3% Manajer sebagai responden. Mereka diminta untuk memberikan pendapatnya – jika dibandingkan dengan produk buatan Indonesia – tentang: daya saing produk buatan Cina, daya jual produk buatan Cina, faktor pendukung daya saing produk buatan Cina, dan fakrtor penghambat produk buatan Cina.

 

Pertama, sangat banyak pimpinan perusahaan Indonesia berpendapat bahwa daya saing produk buatan Cina lebih tinggi dibandingkan dengan produk buatan Indonesia – 79.28% responden. Sangat sedikit yang berpendapat bahwa daya saing produk buatan Cina lebih rendah dari produk buatan Indonesia – 2.70% responden.

 

Kedua, keunggulan daya saing produk buatan Cina di bandingkan dengan produk buatan Indonesia tercermin juga dari sangat banyaknya pimpinan perusahan Indonesia yang berpendapat bahwa daya jual produk Cina lebih tinggi dibandingkan dengan daya jual produk buatan Indonesia – 85.45% responden:

 

Banyak faktor yang mepengaruhi daya saing produk buatan Cina dibandingkan dengan produk buatan Indonesia, yaitu: (a) faktor pendukung daya saing produk Cina, dan (b) faktor penghambat daya saing produk Cina.

 

Ketiga, faktor pendukung daya saing produk Cina dibandingkan dengna produk Indonesia mencakup: harga produk lebih murah, daya pikat produk, kandungan teknologi, tingkat variasi produk, tingkat inovasi produk, dan disain produk. Pendapat pimpinan perusahan Indonesia tentang faktor pendukung daya saing produk buatan Cina, yaitu: (a) Tingkat variasi produk buatan Cina lebih tinggi dari tingkat variasi produk buatan Indonesia – 92.73% responden; (b) Harga produk buatan Cina lebih murah dibandingkan harga produk buatan Indoneisa – 91.89% responden; (c) Tingkat inovasi produk buatan Cina lebih tinggi dari inovasi produk buatan Indonesia – 87.27% responden; (d) Daya pikat produk buatan Cina lebih tinggi dari daya pikat produk buatan Indonesia –70.0% responden; (e) Disain produk buatan Cina lebih baik dari disain produk buatan Indonesia –70.64% responden; (f) Kandungan teknologi produk buatan Cina lebih tinggi dari kandungan teknologi produk buatan Indonesia – 55% responden

 

Keempat, faktor penghambat daya saing produk Cina dibandingkan dengan daya saing produk Indonesia mencakup: kemanan produk, kualitas produk, daya tahan produk, dukungan garansi produk purna jual, dan keandalan produk Cina. Pendapat pimpinan perusahan Indonesia tentang faktor penghambat daya saing produk China, yaitu: (a) Keamanan produk buatan Cina lebih rendah dibandingkan dengan kemanan produk buatan Indonesia – 49.09% responden; (b) Kualiats produk buatan China lebih rendah dibandingkan dengan kualitas produk buatan Indonesia – 42.73% responden; (c) Daya tahan produk buatan Cina lebih rendah dibandingkan dengan daya tahan produk buatan Indonesia – 49.09% responden; (d) Dukungan garansi purna jual produk buatan China lebih buruk dibandingkan dengan dukungan garansi produk buatan Indonesia – 60.36% responden; (e) Keandalan produk buatan Cina sama dengan keandalan produk buatan Indonesia – 53.64% responden.

 

Tidak hanya di pasar domestik Indonesia produk buatan Cina memiliki daya saing dan daya jual produk yang sangat kuat tetapi juga keunggulan di belahan dunia lainya. Tahun 2008, terbukti Cina termasuk salah satu pengekspor 10 besar dunia dalam berbagai produk, antara lain: besi dan baja, peralatan telekomunikasi, komponen elektronik, produk makanan, dan produk pertanian. Prestasi ini menunjukan komitmen yang kuat dari perusahaan Cina untuk menjadi raksasa eskportir global. Hasil akhirnya, menjadikan perusahaan Cina ikut berperan penting dalam menentukan arah perdagangan global.

Penulis adalah Direktur Riset Prasetiya Mulya Business School

Galeri | Pos ini dipublikasikan di File Bisnis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s