ADAB-ADAB MEMBACA al-Quran

PERTAMA : BERWUDLU SEBELUM MEMBACA AL QUR’AN

KEDUA : MEMBACA AL QUR’AN DI TEMPAT YANG SUCI
Disunahkan membaca Al Qur’an di tempat yang suci. Dan yang paling utama adalah di masjid. Ada sekelompok ulama yang memakruhkan membaca Al Qur’an di kamar mandi dan jalan. An nawawi berkata : “Madzhab kami adalah tidak dimakruhkan. Sya’bi memakruhkan membacanya ditempat yang jauh dari kebersihan dan di tempat penggilingan pada saat gilingan itu berputar”. Dia berkata : “Inilah yang seharusnya pada madzhab kami”.
KETIGA : MENGHADAP KIBLAT
Disunnahkan untuk duduk sambil menghadap qiblat dengan khusyu’ dengan tenag dan menundukkan kepala.
KEMPAT : BERSIWAK
Disunahkan untuk bersiwak sebagai penghormatan dan pengagungan. Ibnu Majah Bazar telah meriwayatkan dari Ali secara mauquf dan Al Bazar dengan sanad yang baik secara marfu’ : “Sesungguhnya mulut-mulut kalian itu adalah jalan bagi Al Qur’an. Maka bersihkanlah dengan siwak’.
Aku berkata : “jika dia memotong bacaan dan kembali lagi membaca dalam waktu dekat, maka jika dia dianjurkan untuk mengulangi membaca ta’awudz, maka seharusnya dia juga disunahkan untuk mengulagi bersiwak juga”.
KELIMA : MEMBACA TA’AWUDZ
Disunahkan untuk membaca ta’awudz sebelum membaca. Allah berfirman :
Jika kamu membaca Al Qur’an, maka memintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. (An Nahl : 98)
Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa ta’awudz itu setelah membaca Al Qur’an karena ayat itu menggunakan fi’il madli. Dan ada beberapa ulama yang berpendpat bahwa memabcanya adalah wajib karena dhahir perintah pada ayat itu.
An Nawawi berkata : “jika dia berjalan melewati suatu kaum dalam keadaan sedang membaca AL Qur’an dan mengucapkan salam kepada mereka, kemudian kembali membaca, jika dia mengulangi bacan ta’awudznya, maka itu adalah baik”.
KEENAM : MEMBACA BASMALAH DI AWAL SETIAP SURAT
Hendaklah dijaga bacaan basmalah di awal setiap surat, selain Surat Bara’ah. Karena menurut kebanyakan ulama basmalah adalah satu ayat. Jika basmalah itu termasuk salah satu darinya, maka dia tidak menghatamkannya menurut pendapat kebanyakan ulama. Jika mulai membaca di awal surat, maka disunnahkan untuk membacanya juga. Ini ditegaskan oleh Imam Syafi’i yang diriwayatkan oleh Al ‘Ibadi.
KEDELAPAN : MEMBACA DENGAN TARTIL
DAN TIDAK MEMBACA DENGAN SANGAT CEPAT
Disunatkan untuk membaca Al Qur’an dengan tartil. Allah berfirman :
Dan bacalah Al Qur’an dengan benar-benar tartil“.
Mereka berkata : “Membaca satu juz Al Qur’an dengan tartil adalah lebih baik dari pada membaca dua juz dengan waktu yang sama dengan tanpa tartil”.
Mereka berkata : “Tujuan kesunnahan untuk membaca dengan tartil adalah untuk merenungi. Dan karena itu adalah lebih dekat kepada pengagungan dan penghormatan dan lebih berpengaruh ke dalam hati. Karena itulah juga disunnahkan tartil bagi orang asing yang tidak memahami maknanya”.
Di dalam An Nasyr disebutkan : “Diperselisihkan apakah yang lebih utama membaca sedikit dengan tartil ataukah membaca dengan cepat dan banyak. Telah berbuat baik beberapa imam-imam kami yang berpendapat bahwa sesungguhnya bacaan dengan tartil itu lebih banyak pahalanya dan bacaan yang banyak itu lebih banyak jumlahnya, karena setiap huruf itu ditulis sepuluh kebaikan.
KESEMBILAN : MERENUNGI MAKNANYA
Disunahkan untuk membaca dengan merenungi dan memahami. Inilah tujuan utama dan perintah yang paling penting. Dengannya hati akan menjadi lapang dan menjadi bersinar. Allah ta’ala berfirman :
Kitab yang Aku turunkan kepada mereka agar mereka merenungkan ayat-ayatnya (as-Shod : 29)

dan firmannya :
Apakah mereka itu tidak merenungkan Al Qur’an” (An Nisa’ : 2)
Caranya adalah dengan membuat hati sibuk memikirkan makna apa yang diucapkan, sehingga dia mengetahui makna setiap ayat, memperhatikan perintah-perintah dan larangan-larangan dan meyakini akan menerima hal itu. Jika dia merasa telah berbuat kekuarangan pada masa lalu, maka dia meminta ampun dan beristighfar. Jika melewati ayat tentang rahmat, maka dia merasa gembira dan memohon atau melewati ayat tentang siksa, maka dia merasa sedih dan meminta perlindungan atau melewati ayat tentang penyucian Allah, maka dia mensucikannya atau ayat tentang do’a, maka dia merendahkan diri dan meminta.
KESEPULUH : MENGULANGI-ULANG BEBERAPA AYAT
KESEBELAS : BERUSAHA MENANGIS
Disunahkan untuk menangis ketika membaca Al Qur’an dan berusaha untuk menangis bagi orang yang tidak mampu menangis, bersedih dan khusuk.
Di dalam Sya’bul Iman karya Baihaqi dari Sa’ad bin Malik secara marfu’ :
“Sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan dengan kesedihan. Maka jika kalian membacanya, maka menagislah dan jika tidak bisa, maka berpura-puralah menangis”.
Dan di dalamnya dari hadits mursal Abdul Malik bin Umair bahwa Rasulullah saw berkata : “Aku membaca satu surat di hadapan kalian. Maka barangsiapa yang menangis, maka dia akan mendapatkan surga. Dan jika tidak bisa, maka berpura-puralah menangis”.
Dikatakan dalam Syarah Muhadzab : “Cara agar bisa menangis adalah dengan memperhatikan ancaman-ancaman yang dibacanya, perjanjian-perjanjian yang ada di dalamnya. Kemudian dia memikirkan kekuarangannya pada hal-hal itu. Jika pada waktu memikirkan hal itu dia masih tidak dapat bersedih dan menangis, maka hendaklah dia menangis karena tidak dapat melakukan hal itu. Sesungguhnya hal itu adalah termasuk musibah”.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Religi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s