Siapa Pengarang Rotibul Haddad ?

Rotibul Haddad, itulah salah satu karya Habib Abdullah bin Alawi  Al-Haddad.

dilahirkan pada tanggal 5 Shafar 1044 H, di pinggiran kota Tarim yang bernama Subair.

Ketika Habib Abdullah berusia 4 tahun, beliau terserang penyakit cacar yang begitu hebatnya hingga membutakan kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghafal al-Qur`an dan menguasai berbagai ilmu agama ketika usianya masih kanak-kanak. Rupanya Allah swt berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan pengelihatan batin, sehingga kemampuan menghafal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan.
Sejak kecil Habib Abdullah gemar melakukan ibadah dan riyadhah. Kegemarannya ini seringkali menjadikan nenek dan orang tuanya merasa tidak tega melihat putranya yang cacat melakukan berbagai ibadah dan riyadhah. Mereka menasehati Habib Abdullah agar berhenti menyiksa dirinya. Demi menjaga perasaan kedua orang tuanya, Habib Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyadhah yang sebenarnya amat ia gemari.
Beliau tumbuh dewasa di kota Tarim, Bekas-bekas cacarnya pun tidak tampak lagi diwajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasehat berharga.

Kegemaran Habib Abdullah
Dalam Menuntut Ilmu Dan Berdakwah
Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya seringkali melakukan perjalanan berkeliling ke berbagai kota (di Hadhramaut) untuk menjumpai kaum shalihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka.
Beliau berguru dengan lebih dari seratus ulama, diantaranya adalah :
1. al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Aththas
2. al-Habib Aqil bin Abdurrahman as-Saqqaf
3. al-Habib Abdurrahman bin Syaikh Aidid
4. al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihabuddin
5. al-Habib Sahl bin Ahmad Bahsin al-Hadi Ba Alawi
6. al Habib Muhammad bin Alwi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.
Dari guru-gurunya itulah ia banyak berpengaruh hingga menekuni tasawwuf sampai ia menyusun Ratib al-Haddad (wirid-wirid perisai diri, keluarga dan harta) yang terkenal ini. Dan dari guru-gurunya tersebut dengan kajiannya yang mendalam diberbagai ilmu keislaman menjadikannya benar-benar menjadi orang yang `alim, menguasai seluk-beluk syari`at dan hakikat, memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dalam tasawwuf hingga memperoleh tingkat al-Qutub al-Ghauts, seorang dai yang menyampaikan ajaran-ajaran islam dengan sangat mengesankan dan sebagai seorang penulis yang produktif yang karya-karyanya tetap dipelajari orang sampai saat ini.
Selain giat dalam menuntut ilmu, Habib Abdullah juga salah seorang dai yang gemar berdakwah. Banyak dari para penuntut ilmu yang datang berguru kepadanya. Keaktifannya dalam berdakwah menjadikannya digelari Quthbid Dakwah wal Irsyad.
Diantara murid-murid beliau adalah :
1. al-Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad (putra beliau)
2. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi
3. al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
4. al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith
5. al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman as-Saqqaf
6. al-Habib Muhammad bin Umar bin Thaha ash-Shafi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.

Beliau tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan, dan tidak suka dipuji. Beliau berkata, “Banyak orang membuat syair-syair untuk memujiku, sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tapi aku khawatir tidak ikhlas dalam berbuat demikian, sehingga kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Rasulullah saw, karena beliaupun tidak melarang ketika para sahabatnya membacakan syair-syair pujian kepadanya.”
Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan syair pujian untuknya, “Aku tidak keberatan dengan semua pujian ini, yang ada padaku telah kucurahkan kedalam samudera Muhammad saw, sebab beliau adalah sumber keutamaan, dan beliaulah yang berhak menerima semua pujian, jadi bila sepeninggal beliau ada manusia yang layak dipuji, maka sesungguhnya pujian itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber segala keburukan dan kehinaan, karena itu setiap kecaman dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, sebab setanlah penyebab pertama terjadinya keburukan dan kehinaan.”
Beliau tidak pernah bergantung pada makhluk dan selalu mencukupkan diri hanya dengan Allah swt. Beliau berkata, “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah, aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi selain Allah swt. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya disisiku, karena aku menganggap orang itu hanyalah perantara saja.” Beliau selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah serta mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Disamping kesibukan beliau beribadah, dan berdakwah, beliau juga memelihara perkebunan dan ayam, yang mana dari hasil perkebunan dan ayam tersebut beliau gunakan untuk membantu faqir miskin, anak-anak yatim, janda, penuntut ilmu, dan orang-orang yang tidak mampu. Habib Abdullah juga mengetahui tentang ilmu pertanian, bahkan sering kali ia duduk bersama petani-petani untuk mengajarkan ilmu-ilmu pertanian.

Diantars karya beliau:
1. an-Nashaih ad-Diniyyah
2. ad-Dakwatut Taammah wa Tadzkiratul `Aammah
3. Risalatul Mu`awanah wal muzhaharah wal Mu`azarah
4. al-Fushulul Ilmiyyah
5. Sabilu Iddikar
6. Risalatu Mudzkarah
7. Risalatu Adab Sulukul Murid
8. Kitabul Hikam
9. an-Nafaisul Uluwiyyah
10. Ithafus Sail Bijawabil Masail
Selain itu, terdapat ucapan dan ajaran-ajarannya yang sempat dicatat oleh murid-murid dan para pecintanya, antara lain :
1. al-Mukatabat (kumpulan surat menyurat)
2. Ghayatul Qashad wal Murad oleh
3. Tatsbitul Fuad
Diakui oleh para sufi, bahwa ada ketinggian dan keindahan spiritualitas yang tinggi pada kesufian Habib Abdullah. Dapat dilihat dari karya-karyanya tersebut betapa sejuk dan indahnya bertasawwuf. Tasawwuf bagi Habib Abdullah adalah ibadah, zuhud, akhlak, dan dzikir, suatu jalan membina dan memperkuat kemandirian menuju kepada Allah swt.

Ratib al-Haddad

Selain karya tulis, beliau juga meninggalkan banyak doa-doa serta dzkir-dzikir susunannya. Diantara doa dan dzikir-dzikir yang beliau susun, ratib al-Haddad inilah yang paling masyhur di kalangan ummat Islam, khususnya di Indonesia. Ratib ini beliau susun pada salah satu malam di bulan Ramadhan tahun 1071 H.
Ratib ini disusun untuk memenuhi permintaan salah seorang murid beliau yang bernama `Amir dari keluarga Bani Sa`ad yang tinggal di kota Syibam (salah satu kota di propinsi Hadhramaut).

Tujuan `Amir meminta Habib Abdullah untuk menyusun ratib ini adalah, agar diadakan suatu wirid dan dzikir di kampungnya, agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang ketika itu sedang melanda Hadhramaut.
Mulanya, ratib ini hanya dibaca di kampung `Amir sendiri, yaitu kota Syibam setelah mendapat izin dan ijazah dari al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. kemudian, ratib ini pun mulai dibaca di masjid al-Hawi miik beliau yang terletak di kota Tarim.
Pada kebiasaannya, ratib ini dibaca secara berjamaah setelah shalat Isya`, dan pada bulan Ramadhan, ratib ini dibaca sebelum shalat Isya` untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih, dan ini adalah waktu yang telah ditartibkan al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad untuk kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini. Dengan izin Allah, kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini pun selamat dan tidak terpengaruh dari ajaran sesat tersebut.
Setelah al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berangkat menunaikan ibadah haji, ratib al-Haddad pun mulai dibaca di Mekkah dan Madinah. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi berkata, “Barangsiapa yang membaca ratib al-Haddad dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, niscaya akan mendapat sesuatu yang diluar dugaannya.”
Ketahuilah bahwa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan dalam ratib ini dipetik dari al-Qur`an dan Hadits Nabi saw. Bilangan bacaan disetiap doa dibuat sebanyak tiga kali, karena itu adalah bilangan ganjil (witir). Semua ini berdasarkan petunjuk al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad sendiri. Beliau menyusun dzikir-dzikir yang pendek dan dibaca berulang kali, agar memudahkan pembacanya. Dzikir yang pendek ini jika selalu dibaca secara istiqamah, maka lebih utama dari pada dzikir yang panjang namun tidak dibaca secara istiqamah.
Demikianlah Habib Abdullah menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajar, berda`wah dan mencontohkan, sampai akhirnya pada selasa sore, 7 Dzulqa`dah 1132 H, kembali menghadap Yang Kuasa, meninggalkan banyak murid, karya dan nama harum di dunia. Di kota itu pula, di pemakaman Zanbal beliau dimakamkan. Semoga Allah SWT memberi-Nya kedudukan yang mulia disisi-Nya dan memberi kita manfaat yang banyak dari ilmu-ilmunya.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s